• Little piece of my story


    “Bukankah angin laut itu sangat menenangkan?”
    Semilir angin menerpa celah-celah rambut pirang pucat milik seorang gadis yang tengah menikmati indahnya malam di atas samudra biru dengan seorang pemuda di sampingnya. Pemuda itu hanya diam sembari menikmati gelombang-gelombang air di sekitar kapal yang berjalan.
    Gadis itu kemudian berpaling dan hendak meninggalkan pemuda itu sendirian. Sang pemuda menyadarinya, hendak memprotes dan meminta gadis itu tetap berada di sampingnya. Namun mulut pemuda itu tetap terkunci, hanya bisa menatap punggung gadis itu yang semakin jauh.
    Pemuda itu kemudian mengurungkan niatnya dan menatap bulan di atasnya. Terlalu hanyut dalam pikirannya, ia tidak sadar akan adanya ombak yang mendekat.
    Memang hanya sedikit menimbulkan guncangan di dalam kapal, namun sedikit guncangan itu dapat menggagalkan rencana seorang gadis yang hendak memberikan sebuah kejutan. Hal itu membuat dirinya terkejut dan hampir jatuh.
    Pemuda itu dengan tanggap menangkap sang gadis, sampai kemudian kue yang dibawa gadis itu sukses mendarat tepat diatas keduanya.
                    “Kurasa akan lebih enak kalau kue itu dapat kita makan.” ujar sang gadis.
                    “Yeah, dan kau akan membutuhkan saputangan.” ucap si pemuda sembari membersihkan krim kue di rambut sang gadis.
    Gadis itu sedikit terusik dengan pandangan penumpang lain yang memperhatikan mereka. Kemudian dia sedikit cemberut seakan ia memprotes sang pemuda agar tidak memperlakukannya seperti anak kecil. Sedangkan sang pemuda dengan tekun membersihkan krim kue yang mengotori mereka berdua.
    “Aku mau ganti baju!”
                    “Aku tidak melarang. Silakan saja,”
    Ucapan, dan wajah yang tanpa ekspresi itu semakin membuat kesal sang gadis. Saking kesalnya ia menghentakkan kaki lalu meninggalkan sang pemuda.
                    “Tunggu,” sebuah kata meluncur dari bibir sang pemuda, membuat sang gadis kembali berpaling padanya, mungkin...  “Tidakkah kau akan membawa piring ini kembali ke dalam?”
    Sekali lagi, sang pemuda itu benar-benar sukses membuat sang gadis jengkel sejengkel-jengkelnya. Gadis itu kemudian merebut piring yang berada di tangan sang pemuda. ‘Akh! Ada angin apa yang merubahnya menjadi cuek begitu, sih? Sebal!’
    ^.^.^.^.^
    “Maukah anda berdansa dengan saya, Nona?”
                    “Maaf, aku tidak bisa berdansa.”
                    “Itu bukan masalah.”
                    “Tidak, terima kasih.”
    Sebenarnya itu bukan sebuah alasan, hanya saja sudah banyak pria yang mengajaknya berdansa. Tapi, hanya ada satu orang yang betul-betul dia inginkan untuk berdansa dengannya di malam ini. Walaupun sepertinya yang diharapkan tidak menyadarinya.
    “Kau tidak berdansa?” tanya seorang pemuda sembari menyodorkan segelas minuman pada sang gadis. Gadis itu mengambilnya dan langsung menghirup aroma minuman itu.
                    “Yeap, karena sepertinya aku tidak tertarik dengan mereka yang telah mengajakku berdansa.” jawab sang gadis.
    “Haha, kau tidak berharap ada seorang pangeran berkuda putih—yang sepertinya mustahil karena kita sedang di lautan, mengajakmu berdansa, kan?” Gadis itu diam sejenak.
                    “Bukan mustahil, kok.” Lagi-lagi gadis itu meninggalkan sang pemuda.
    ^.^.^.^.^
    “Kau tidak mungkin marah hanya karena leluconku yang tidak lucu, bukan?”
    Gadis itu menoleh, “Tentu saja tidak.” Mendengar jawaban itu entah kenapa sang pemuda sedikit merasa lega. Gadis itu termangu. Apalagi saat pemuda itu berjalan mendekatinya, berlutut di hadapannya, kemudian meraih tangannya untuk dicium olehnya.
    “Yah, saya memang bukan pangeran berkuda putih. Namun, maukah anda berdansa denganku malam ini, Yang Mulia Alexandra?”
    Dan tentu saja kau tahu jawabannya.

1 komentar:

  1. le prince de rêve mengatakan...
    Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar